BALI, SWARAROTE.COM–Kisah ini terlukis atas dukungan PT Bo’a Development, Nihi Rote, Rote Hospitality Academy (RHA) serta Yayasan Kesejahteraan Rote Peduli (YKRP).

Diberikan dengan mengantar Mayana Tysellanata Saleky, remaja putri Literasi budaya Indonesia 2025, untuk mengikuti tour budaya di Bali, Senin (21/4) hingga Sabtu (25/4).

Di sana, Mayana mempelajari sesuatu hal yang unik sebagai warisan budaya Nusantara yang masih hidup, dilakoni masyarakat.

Tepatnya di Kelurahan Ubud Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar-Bali, Mayana, membaca budaya melalui selembar kain putih bersih yang ditempatkan di atas canting, alat untuk membatik bagi orang Bali.

Dengan posisi duduk lesehan menghadap kain kosong itu, Mayana didamping seorang pembantik bernama ibu Iluh, menuntunnya membentuk gambar berpola Kupu-kupu dan bunga.

“Gambar pertama jadi tidak beraturan karena belum terbiasa,” kisah Mayana Tysellanata Saleky, remaja putri literasi budaya Indonesia 2025, mengenang saat pertama mulai membatik.

Hasil yang belum terbentuk buatan tangannya menarik perhatian ibu Iluh, sang pengrajin. “Batik itu bahasa nak. Kalau buru-buru nanti salah arti,” kata Mayana, mengulang ucapan Ibu Iluh, yang memandunya membantik.

“Tidak apa-apa. Yang penting nikmati setiap prosesnya,” lanjut Mayana, meniru ucapan pemandunya.

Ucapan itu kemudian membekas sebagai nasehat bagi Mayana. Kemudian disadari bahwa, membatik bukan sekadar keterampilan, tetapi pelajaran tentang hidup, yang menjarkan kesabaran untuk menghasilkan karya yang lebih bermakna.

Kesabaran untuk mengarahkan setiap titik lilin pada garis yang berpola, mengajarkan arah kehidupan yang indah terbentuk dari proses penuh ketekunan.

Dan di atas kain putih yang sebelumnya kosong itu, Mayana tak hanya belajsr membatik. Ada penghargaan terhadap waktu serta menghormati setiap jejak hingga terbentuk pola.

Pengalaman itu dibawa pulang dengan terima kasihnya kepada pihak-pihak yang membantu dan mengantarnya mengikuti tour tersebut.

“Melalui canting dan selembar kain putih, memberi pelajaran berharga untuk membaca peradaban, serta merasakan kearifan lokal tentang budaya di Bali,” kata Mayana. 

“Dan NIHI Rote membuat perjalanan ini (tour budaya) semakin berarti, sebagai jembatan generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya Nusantara,” sambungnya bangga. (*/SR/EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *