BALI, SWARAROTE.COM–Di Ubud, Bali, selembar kain putih menjelma ruang belajar yang penuh makna bagi Mayana Tysellanata Saleky. 

Di tangan remaja putri literasi budaya Indonesia 2025 itu, canting bukan sekadar alat. Melainkan pena yang menuliskan pemahaman baru tentang warisan leluhur Nusantara.

Perjalanan tour budaya dirasa begitu berharga dengan pengalaman membatik di jantung seni Pulau Dewata. Di sana, Mayana kemudian menyadari bahwa keindahan batik tidak hanya terletak pada corak dan perpaduan warnanya. 

Sebab, di balik setiap goresan, tersimpan filosofi yang hidup, tumbuh, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Itu diketahuinya dari ibu Ilu, seorang pembatik yang mendampinginya membatik.

“Setiap garis pada batik bicara makna nak,” singkat Mayana, mengulang ucapan ibu Iluh, saat membuka kisah membatik dalam tour budayanya yang didukung PT Bo’a Development, Nihi Rote Rote Hospitality Academy (RHA) dan Yayasan Kesejahteraan Rote Peduli (YKRP).

“Contoh, bunga jepun melambangkan ketulusan, keharuman hati, dan kesucian jiwa. Sementara itu, kupu-kupu hadir sebagai simbol transformasi, harapan, dan kebebasan,” sambungnya menjelaskan, Kamis (30/4).

Sebelum mendapat penjelasan itu, Mayana sempat menyangka bahwa corak batik cuma hiasan yang elok.

Ternyata, setiap polanya menyimpan kisah yang terus dibuat hidup. Menyimpan doa dan harapan, serta pandangan hidup masyarakat Bali.

Lanjutnya, bahwa pola ceplok yang teratur mengajarkan tentang keseimbangan hidup. Bersama garis-garis lengkung di dalamnya menyiratkan keluwesan yang menuntut manusia untuk tetap lentur, tanpa harus kehilangan arah dan nilai.

Di titik itu, Mayana mulai memahami bahwa membatik bukan sekadar aktivitas seni. Tetapi proses untuk membaca sekaligus menulis kebudayaan.

Pengalaman tersebut kini menambah cara pandangnya terhadap warisan budaya Nusantara.

Di mana, setiap helai batik yang dilihatnya bukan sebatas corak indah. Tetapi lembaran sejarah yang ditulis dengan lilin ketekunan, diwarnai kebijaksanaan nenek moyang, yang diwariskan turun-temurun.

“Bersyukur sekali bisa dapat kesempatan dan dukungan dari Nihi Rote untuk ikut tour ini di Bali,” ucapnya bangga.

“Ini anugerah yang membuka ruang belajar tentang keindahan budaya, dan memahami makna yang hidup di dalamnya,” ucapnya lagi.

“Terima kasih PT Bo’a Development, Nihi Rote dan Rote Hospitality Academy (RHA) serta Yayasan Kesejahteraan Rote Peduli (YKRP) yang bukan saja mendukung, tapi terus mensupport langkah dan impian Mayana sejak dari awal di Yogyakarta,” sambungnya. (*/SR/EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *