BO’A, SWARAROTE.COM–Tepatnya di Pantai Oemau, Desa Bo’a, Kecamatan Rote Barat, sebuah kisah lahir dari hamparan pasir putih, dan gulungan ombak, serta panorama laut lepas, menjadi titik awal hadirnya Nihi Rote.

Lebih dari sekadar resort mewah, Nihi Rote hadir sebagai simbol pariwisata kelas dunia yang berakar pada budaya dan kearifan lokal Kabupaten Rote Ndao.

Kemewahan yang ditawarkan bukan hanya soal fasilitas. Tetapi tentang penghormatan terhadap alam, tradisi, dan kearifan masyarakat setempat.

Founder dan Presiden Komisaris PT Bo’a Development, Panji Adhikumoro Soeharto, mengisahkan bahwa visinya itu bermula lebih dari 15 tahun lalu, saat pertama kali hadir dan menyaksikan secara langsung keindahan Pantai Bo’a.

“Sejak pertama kali melihat ini, kami tahu bahwa telah menemukan sesuatu yang benar-benar istimewa,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/4).

Keyakinan itu semakin menguat dengan keaslian alam yang masih terjaga. Sekaligus memacu ide untuk membangun destinasi dunia yang selaras dengan manusia, alam, dan budaya, dilakukan pada tahun 2012.

Dengan konsep pembangunan yang keberlanjutan, Nihi Rote menghadirkan kemewahan tanpa merusak ekosistem. Bahkan, masyarakat lokal ditempatkan sebagai bagian utama dari pertumbuhan di sektor pariwisata.

Dan kini, Nihi Rote menjadi ruang untuk merayakan identitas Rote Ndao, dari arsitektur hingga pengalaman yang ditawarkan. Semuanya berpijak pada kekayaan budaya setempat, menjadikannya tempat beristirahat sekaligus memahami jiwa sebuah daerah.

“Nihi Rote jadi mewah karena dibangun dengan rasa hormat kepada alam dan budaya, serta membuka ruang kepada generasi muda untuk belajar serta mencintai budayanya,” ujar Mayana Tysellanata Saleky, Remaja Putri Literasi Budaya Indonesia 2025. (*/SR/EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *