BATUTUA, SWARAROTE.COM–Di halaman SMP Negeri 1 Rote Barat Daya, senyum-senyum kelulusan terlihat menghiasi wajah delapan puluhan siswa dengan menyimpan cerita yang tidak semua orang tahu.

Rata-rata  diantara mereka setiap pagi berangkat sekolah setelah membantu orang tua yang berprofesi sebagai petani/pekebun, peternak dan nelayan. Mereka tumbuh dari rumah sederhana beratap daun lontar dan seng yang bocor saat hujan. 

Ada yang melihat ayahnya pulang dengan tubuh berpeluh setelah seharian melaut. Ada pula yang menyaksikan ibunya berjuang menjual sayur demi memenuhi kebutuhan sekolahnya.

Hari itu mereka dinyatakan lulus. Tetapi sesungguhnya, mereka sedang merayakan kemenangan yang lebih besar dari sekedar angka di atas ijazah. Dan beruntungnya, di momen kelulusan itu dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Rote Ndao, Apremoi Dudelusy Dethan.

Kehadirannya bukan sebatas memberi ucapan selamat. Ada pesan harapan bahwa sukses merupakan hak semua anak-anak, dengan tak memandang latar belakang keluarga.

“Menjadi orang-orang hebat tidak harus datang dari keluarga kaya,” tegas Wabup Apremoi, membukan sambutannya.

Terhadap kehadiran Simson Polin, dijelaskanya bahwa diminta pihak sekolah untuk sebagai sosok inspiratif karena dibesarkan ayah yang buruh pelabuhan, dan ibu penjual es manis. 

Di mana, Simson dengan ketabahan dan keuletannya, berhasil merintis usaha di bidang otomotif dan kini sebagai anggota DPRD Provinsi NTT.

“Ibu Kepsek menyampaikan kepada saya bahwa kami juga mau supaya bapak Simson hadir untuk memberikan motivasi bagi anak-anak terkasih yang ada di tempat ini,” kata Wapub Apremoi, membuka sambutannya, Selasa (2/6).

“Supaya ke depan, mereka juga bertumbuh menjadi orang-orang hebat,” sambungnya dengan mengapresiasi sejumlah tokoh yang hadir saat itu.

Di hadapan para siswa, guru, dan orang tua, Apremoi seakan sedang berbicara kepada setiap anak yang pernah merasa kecil karena keadaan. Kepada mereka yang kadang bertanya dalam hati apakah mimpi-mimpi besar hanya milik anak-anak yang lahir dalam kemudahan.

Dengan suara yang penuh kasih, ia menyebut para siswa sebagai anak-anak hebat. Bukan karena mereka sudah sukses, tetapi karena mereka mampu bertahan, belajar, dan sampai pada titik kelulusan meski hidup tidak selalu mudah.

Pesan itu terasa begitu dekat dengan kenyataan sebagian besar keluarga di Rote Ndao. Sebab di balik setiap seragam sekolah yang dikenakan anak-anak itu, ada pengorbanan yang sering kali tidak terlihat.

Ada tangan ayah yang kasar karena bekerja. Ada cara ibu yang diam-diam menahan lelah. Dan ada doa-doa panjang yang dipanjatkan setiap malam agar anak-anaknya memiliki hidup yang lebih baik.

“Untuk 80-an anaku terkasih, apapun kondisi adik-adik sekalian, pada momen ini mama mau menyampaikan bahwa kalian adalah anak-anak hebat,” ungkapnya. (*/SE/EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *