BA’A, SWARAROTE.COM– Hari ini orang mengenal Simson Polin dan Absalom Polin sebagai sosok yang berhasil melewati berbagai keterbatasan hidup, bukan jalan terjal yang  mereka daki selama bertahun-tahun.

Tidak ada yang tahu berapa kali keduanya pulang dengan wajah biasa-biasa saja sambil menyembunyikan kegelisahan di dalam dada. Karena ada begitu banyak malam yang dilewati dengan memikirkan hari esok yang belum tentu lebih baik.

Sebab keduanya bersama 4 saudara lainnya cuma lahir dari anak buruh pelabuhan dan penjual es manis, yang menjalani hidup serba kekurangan.

Dari keadaan tersebut, timbulah niat memulai usaha tambal ban kecil yang dirintis dengan nama bengkel Sasando Motor. Sayangnya, harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik kerap runtuh dengan kenyataan yang datang tanpa ampun.

Bahwa, ada hari ketika pelanggan sepi, dan ketika penghasilan tidak cukup. Begitu juga pilihan untuk melanjutkan atau memilih untuk berhenti.

Tetapi yang paling berat bukanlah kekurangan uang. Yang paling berat adalah saat mimpi terasa semakin jauh meski sudah berusaha sekuat tenaga.

“Tidak banyak orang yang tahu berapa kali mereka (Simson-Absalom) hampir menyerah,” tulis Wakil Bupati Rote Ndao, Apremoi Dudelusy Dethan dalam unggahannya di akun Facebook @Apremoi Dethan, Minggu (31/5).

Kalimat itu mungkin sederhana. Namun di baliknya tersimpan cerita tentang manusia yang berulang kali jatuh, berulang kali kecewa, dan berulang kali mencoba berdiri lagi.

Sebab tidak semua tangisan membutuhkan saksi untuk menyaksikan air mata yang jatuh dalam diam.

Dan mungkin itulah bagian hidup yang dilewati Simson dan Absalom, yang luput dari perhatian orang lain. “Tidak banyak orang melihat bagian itu,” tulis Wabup Apremoi, dalam postingannya yang memantik respon positif sebagai kisah inspiratif.

“Tidak banyak yang tahu berapa kali mereka hampir menyerah. Tidak banyak yang mendengar tangisan yang jatuh dalam sunyi ketika mimpi terasa terlalu jauh untuk digapai,” tulisnya mempertegas situasi dua kakak beradik itu.

Ketangguhan itu bukan sekadar cerita. Hari ini, bengkel Sasando Motor yang dulu hanya berawal dari bengkel dan tambal ban kecil telah berkembang menjadi salah satu usaha yang dikenal masyarakat Rote Ndao, dengan mempekerjakan sejumlah orang.

Perjalanan itu tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada tahun-tahun panjang yang diisi dengan kerja keras, pengorbanan, dan keberanian mengambil risiko. Yang oleh Simson dan Absalom, apa yang dinikmati hari ini merupakan akumulasi dari kesabaran.

Dari proses panjang itulah, masyarakat kemudian memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada dua kakak beradik tersebut. Simson Polin dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi NTT, sementara Absalom Polin mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao. 

Namun bagi Simson, keberhasilan bukanlah tentang tidak pernah jatuh. “Semua orang pasti pernah jatuh, atau jatah gagal masing-masing. Jadi kalau pernah jatuh, harus berusaha untuk bangkit. Jatuh lagi, bangkit lagi, jangan langsung menyerah,” kata Simson Polin. (*/SR/EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *