BA’A, SWARAROTE.COM–Tidak semua anak lahir dengan privilese. Ada yang lahir dari tangan ayah yang setiap hari memeras keringat mengangkat beban milik orang lain. Ada yang tumbuh dari perjuangan seorang ibu yang menjajakan es manis agar dapur tetap berasap. 

Dan ada yang sejak kecil sudah mengenal kerasnya hidup bahkan sebelum sempat memahami arti kehidupan itu sendiri. Begitulah masa kecil Simson Polin dan Absalom Polin.

Hari ini banyak orang melihat hasilnya. Namun tidak banyak yang mengetahui bagaimana keduanya memulai perjalanan dari titik yang bahkan nyaris tak terlihat.

Melalui unggahan Wakil Bupati Rote Ndao, Apremoi Dudelusy Dethan, di akun Facebook @Apremoi Dethan, lembaran kehidupan Simson-Absalom dibuka dengan tumbuh serba berkekurangan keluarga dengan enam orang bersaudara.

Ayah Simson dan Absalom bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Ferry Pantai Baru. Bukan pekerjaan yang menjanjikan kekayaan, tetapi pekerjaan yang menuntut tenaga, ketabahan, dan pengorbanan. Sementara sang ibu berjualan es manis dari hari ke hari demi memastikan anak-anaknya tetap bisa makan.

Masa kecil Simson dan Absalom bersama empat saudara lainnya bisa dipastikan tidak dipenuhi hal kemewahan. Tidak ada fasilitas istimewa. Serta tidak ada jalan pintas menuju kehidupan yang lebih baik.

Yang ada hanyalah kerja keras yang diwariskan orang tua dan harapan yang terus dijaga meski keadaan sering kali terasa tidak adil.

Simson, dalam postingan Wabup Apremoi, disebut membantu ayah melaut sambil menyambi tukang ojek. Sementara Absalom yang masih kecil ikut mendampingi ibunya berjualan. Mereka belajar tentang perjuangan bukan dari buku, tetapi langsung dari kehidupan.

Simson dan Absalom, tahu rasanya pulang dengan tubuh lelah. Tahu tentang bagaimana menahan kecewa ketika usaha tidak membuahkan hasil. Keduanya juga tahu bagaimana tetap tersenyum meski kenyataan tidak selalu berpihak.

“Mereka (Simson-Absalom) betul-betul tahu bagaimana rasanya pulang dengan lelah, dengan berusaha menyembunyikan kecewa dan tetap tersenyum meski keadaan tidak selalu berpihak,” tulis Apremoi.

Namun dengan keberanian yang bahkan lebih besar daripada modal yang mereka miliki, keduanya mulai merintis usaha tambal ban kecil yang kini dikenal ‘Sasando Motor’. 

Keberanian untuk bermimpi lebih besar dari keadaan itulah yang akhirnya mengubah arah hidup mereka. Simson sang kakak, dipercaya mengemban amanah rakyat di DPRD Provinsi NTT, sementara Absalom anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao, dengan bengkel yang dulu kecil, kini merambah ke mana-mana.

“Hari ini, jika keduanya masih berdiri, itu bukan karena mereka tidak pernah jatuh. Mereka tetap berusaha bangkit setiap kali jatuh, dengan iman dan pengharapan bahwa Tuhan tidak membiarkan mereka sampai tergeletak,” tulis Wabup Apremoi, yang memantik respon karena dianggap menginspirasi warganet. (*/SR/EK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *