BO’A, SWARAROTE.COM–Di balik pembukaan pendaftaran angkatan ketiga Rote Hospitality Academy (RHA), tersimpan satu kesempatan diberikan untuk diperjuangkan dalam tahapan seleksi.
Bahwa, RHA menegaskan posisinya bukan sekadar lembaga pelatihan biasa dalam proses penerimaan peserta yang dirancang berlapis.
Tahap awal dimulai dengan tes tertulis yang dijadwalkan bulan ini (Mei) 2026, sebagai pintu masuk menguji kemampuan dasar calon peserta, sekaligus fondasi menyaring keseriusan.
Berlanjut ke tahap wawancara pada Juni nanti, peserta tidak lagi dinilai dari angka semata. Melainkan cara berpikir, berbicara, dan kedalaman motivasi yang dimiliki.

Bagi RHA, tahap itu bertujuan untuk memastikan setiap individu yang melangkah bukan hanya pintar akademik, tetapi juga paham arah.
Tahap berikutnya, yaitu seleksi final menjadi penentuan, yang menguji secara keseluruhan. Mulai dari kapasitas intelektual hingga ketahanan mental.
Pasalnya, RHA tidak hanya fokus mencari yang mampu. Tetapi generasi yang benar-benar siap menghadapi dunia hospitality yang kompetitif.

Tak cuma itu, sikap, etika, dan komitmen menjadi faktor yang tak bisa ditawar-tawar, membuat RHA menempatkannya sebagai prioritas.
Sehingga peserta yang sekedar coba-coba akan tertinggal. Sementara yang bertekad kuat akan menemukan jalannya menapaki masa depan.
Lebih dari itu, seleksi penerimaan masuk RHA, juga menyimpan makna yang lebih dalam, di tengah arus globalisasi.

Di mana, dunia hospitality bukan hanya pelayanan. Ini soal identitas. Tentang budaya yang tetap hidup dan berdiri sejajar di atas panggung dunia.
“Rote Hospitality Academy menempatkan budaya sebagai akar, sekaligus kekuatan untuk melangkah ke dunia global,” kata Mayana Tysellanata Saleky, remaja putri literasi Indonesia 2025, beberapa waktu lalu.
“Jadi belajar budaya di RHA bukan sebatas pengetahuan, tetapi bekal yang siap dibawa ke dunia luar,” tambahnya.. (*/SR/EK)